Tampilkan postingan dengan label Usamah Bin Ladin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Usamah Bin Ladin. Tampilkan semua postingan

The great story about Syaikh Usamah bin Ladin: Hari-hari bersama sang Imam (2/tamat)


– Syaikh Dr. Aiman azh-Zhawahiri hafizhahullah, pemimpin umum tanzhim Al-Qaeda, kembali menceritakan pengalaman berharga yang penuh hikmah selama mendampingi syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah. Banyak sisi kemanusiaan syaikh Usamah yang diangkatnya.
Di antaranya, bagaimana syaikh Usamah mendidik anak-anak beliau sebelum dan selama kecamuk invasi salibis internasional bulan Oktober 2001 sampai saat beliau syahid di Pakistan?
Bagaimana kelembutan hati dan kasih sayang syaikh Usamah kepada sesama muslim? Inilah lanjutan terjemahan video syaikh Dr. Aiman azh-Zhawahiri berjudul ‘Ayyamun ma’a al-Imam’ yang dirilis oleh Yayasan Media as-Sahab pada tanggal 20 Dzulhijah 1432 H/16 November 2011 M.
***
Kejadian yang juga saya ingat pada kesempatan ini, yang saya ketahui dan mungkin tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Semua orang melihat ketika sang singa Islam, Syaikh Usamah bin Ladin, meraung dengan meneriakkan: Amerika sekali-kali tidak akan bermimpi aman, beliau mengancam Amerika dan mengancam Bush, mungkin orang tidak tahu bahwa beliau adalah orang yang sangat kasih sayang, santun, dan lembut. Beliau memiliki perasaan yang sangat lembut dan sangat pemalu yang belum pernah kami lihat orang seperti itu sebelumnya. Akhak mulianya diakui oleh kawan dan lawan. Tidak ada seorang pun yang pernah duduk bersama Syaikh Usamah bin Ladin kecuali pasti memuji akhlaknya, kebaikannya, rasa malu yang besar, dan sangat lapang dada.
Syaikh Ayman Az Zhawahiri hafizhahullah bersama Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah
Misalnya, saya ingat Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau — ada sebuah peristiwa bersamaku yang menunjukkan betapa sangat lembut perasaan beliau. Ketika itu sampai kepada kami berita syahidnya keluargaku — semoga Allah merahmati mereka semua dan juga ikhwan-ikhwan yang syahid bersama mereka —, orang yang membawa berita tersebut — ketika itu kami tengah berada di Tora Bora — Syaikh Usamah meminta kepada ikhwah yang membawa berita tersebut agar tidak berbicara denganku. Lalu kami melaksanakan shalat Subuh dan Syaikh Usamah mempersilahkan saya untuk mengimami para ikhwah shalat Subuh. Selesai shalat Subuh kami duduk untuk membaca dzikir habis shalat, saya lihat para ikhwah keluar satu persatu, sehingga tinggal saya sendirian yang ada di situ.
Kemudian ikhwah yang membawa berita itu masuk, mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan ta’ziyahnya kepadaku. Ia juga mengingatkanku supaya bersabar dan ikhlas. Ikhwah tersebut menyampaikan kepadaku bahwa istriku, anak laki-lakiku, dan anak perempuanku terbunuh. Ia menyampaikan kepadaku bahwa tiga saudaraku terbunuh, sebagian anak-anak laki-laki dan perempuan mereka juga terbunuh. Saya pun mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya ikhlas dan memohon kepada Allah SWT agar membantuku.
Pada saat itulah Syaikh Usamah —semoga Allah merahmati beliau— masuk dan memelukku, dengan berlinangan air mata dan menangis tersedu-sedu. Beliau menyampaikan ta’ziyahnya lalu para ikhwah masuk satu persatu menyampaikan ta’ziyahnya kepada saya, menyabarkan saya dan meneguhkan saya.
Hari itu jadwalnya kami setelah shalat Subuh bergerak ke tempat lain. Saat itu jumlah kelompok kami kira-kira 30an orang lebih. Syaikh Usamah meminta sebagian besar ikhwah untuk bergerak, dan beliau mengatakan kepada saya: “Saya, antum dan beberapa ikhwah tinggal di sini.” Saya pun menjawab: “Tidak usah wahai Syaikh, kita bergerak saja, insya Allah pergerakan itu akan melupakan orang dari kesedihannya.” Beliau menyahut lagi: “Tidak .. tidak … tidak, tidak usah.” Syaikh Usamah pun tetap dalam pendiriannya dan kami pun tinggal di tempat tersebut satu hari —semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan—. Beliau menunggu urat-urat saya rilek dan perasaan saya tenang, setelah itu kami baru bergerak. Setelah itu hilanglah goncangan pertama saya al-hamdulillah, kami memohon kepada Allah agar memberikan kepada kita semua ganti dari orang-orang kita yang telah syahid, dan juga kaum muslimin yang meninggal dunia.
Setelah itu, ketika saya bercerita tetang anakku yang bernama Muhammad di hadapan Syaikh Usamah, saya menceritakannya ketika goncangan jiwa dan perasaan itu telah hilang. Saya melihat-lihat kedua mata Syaikh Usamah mencucurkan air mata. Padahal, mataku tidak meneteskan air mata karena semua sudah berlalu. Setiap kali saya menceritakan anakku, Muhammad, saya melihat kedua mata Syaikh Usamah mengucurkan air mata —semoga Allah merahmati beliau—.
Kisah lain, di antara sikap beliau yang indah yang saya ingat beliau adalah orang yang pertama kali menyampaikan ta’ziyahnya kepadaku atas meninggalnya ibuku — semoga Allah merahmati ibuku dan juga seluruh kaum muslimin baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup —. Beliau menyampaikan ta’ziyahnya yang indah kepadaku dan beliau mengirim sebuah surat yang indah kepadaku yang berisi ucapan ta’ziyah. Saya berterima kasih kepada beliau dan saya katakan: “Wahai Syaikh, engkau lebih dahulu tahu tentang wafatnya ibuku sebelum aku tahu, semoga Allah membalasmu dengan balasan yang paling baik.”
Selain itu, di antara hal yang diketahui oleh semua orang yang dekat dengan Syaikh Usamah adalah bahwa beliau itu berhati lembut dan mudah meneteskan airmata. Mata beliau selalu meneteskan air mata apabila beliau berkhotbah atau berbicara atau berdoa. Syaikh Usamah bin Ladin dikenal sebagai orang yang sangat mudah meneteskan air mata. Sampai-sampai suatu saat beliau pernah meminta pendapat kepadaku. Beliau mengatakan kepadaku: “Beberapa ikhwah mengatakan kepadaku bahwa engkau (syaikh Usamah, edt) terkadang sebelum berbicara pun meneteskan air mata, bisakah kiranya antum tahan sedikit?” Beliau kemudian bertanya kepadaku: “Apa pendapatmu?” Saya menjawab: “Wahai Syaikh ini adalah kasih sayang yang Allah ciptakan dalam hatimu, maka jangan bersedih karenanya. Ini adalah karunia Allah SWT yang dianugerahkan kepadamu.”
Hal yang lain lagi, sisi-sisi yang saya lihat dari Syaikh Usamah  bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau —, pernah suatu saat ketika kami berada di kamp ‘Ainuk dekat Kabul — tepatnya selatan Kabul — waktu itu Syaikh Usamah ada di sana bersama saya, datang beberapa ikhwah dan duduk-duduk bersama kami. Pada kesempatan itu Syaikh Usamah berbicara mengenai Palestina, terjadi demonstrasi di Gaza … seingat saya pada waktu itu beliau mengatakan: “Wahai ikhwan-ikhwan di Palestina! Darah kalian adalah darah kami, anak kalian adalah anak kami. Darah dibalas darah, penghancuran dibalas penghancuran.” Sepertinya ini kata-kata yang beliau sampaikan ketika itu, saya tidak ingat persisnya. Sebuah kalimat dari sekian kalimat beliau yang menyatakan sumpahnya untuk membela Palestina.
Kisah tentang kecintaan Syaikh Usamah adalah sebuah kisah tersendiri yang harus saya ceritakan secara lebih rinci, insya Allah. Seorang ikhwah datang dan mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Saya melihat di media massa para wanita keluar dalam sebuah demonstrasi. Para wanita itu berdemo dengan membawa spanduk yang bertuliskan kata-kata yang artinya ‘kami menunggu janjimu wahai Usamah’ atau kata kata semacam itu.”
Syaikh Usamah pun terdiam demi mendengar hal itu. Beliau sangat tersentuh. Setelah itu Syaikh Usamah pergi shalat Isya’ di masjid yang ada di kompleks kamp latihan. Suasana sangat hening. Setelah melaksanakan shalat, Syaikh Usamah bersandar begini ke dinding masjid. Beliau shalat sunnah dan saya mendengar beliau menangis tersedu-sedu. Saya bertanya-tanya dalam hati; kenapa beliau menangis seperti ini? Beliau menangis seperti ini lantaran mendengar berita yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Palestina menunggu janji Usamah bin Ladin. Padahal menurut pandangan saya beliau telah memenuhi janjinya. Kita memohon kepada Allah agar merahmati beliau, kita semua dan seluruh kaum muslimin.
Sisi indah lainnya dalam kehidupan Syaikh Usamah bersama anak-anak beliau adalah,  bahwa setiap orang yang dekat dengan beliau pasti melihat adab yang tinggi dan mulia pada anak-anak beliau — semoga Allah menjaga mereka semua, menjaga kita, anak-anak kita, juga anak-anak kaum muslimin, serta membimbing mereka semua untuk taat kepada-Nya —.
Syaikh Usamah bin Ladin adalah seorang milyader yang kaya raya. Namun anak-anak beliau biasa melayani tamu-tamu beliau dan anak-anak beliau tidak membiarkan para tamu melakukan apapun sendirian. Mencucikan tangan, menyiapkan makanan, mengeringkan tangan, menyiapkan tempat. Semua itu mereka lakukan dengan penuh adab dan penghormatan terhadap tamu-tamu Syaikh Usamah bin Ladin.
Saya sering sekali mendengar orang mengatakan: “Masya Allah! Tarbiyah mulia macam apa yang dilakukan oleh Syaikh Usamah kepada anak-anaknya?!” Syaikh Usamah bin Ladin, meskipun dalam kondisi berpindah-pindah dan tidak menetap, beliau sangat perhatian terhadap tarbiyah dan taklim anak-anaknya. Beliau berusaha sungguh-sungguh agar anak-anaknya menghafal Al-Qur’an sebelum belajar pelajaran yang lain-lain. Dan perkiraan saya beberapa orang di antara mereka telah banyak juz yang mereka hafal, atau bahkan mungkin — saya tidak tahu persis — beberapa orang di antara mereka telah selesai menghafalkan Al Qur’an. Kita memohon kepada Allah agar membimbing anak-anak kaum muslimin untuk hal yang seperti itu.
Inilah kisah Syaikh Usamah bin Ladin pada sisi ilmu dan taklim. Sisi ini mungkin telah saya paparkan sebagiannya dalam buku Fursan Tahta Rayatun Nabi, cet. II. Namun sisi ini belum mendapatkan porsi penjelasan yang cukup. Yakni bahwa Syaikh Usamah sangat serius dalam menebarkan dakwah dan taklim.
Syaikh Usamah mendatangkan seorang pengajar khusus untuk anak-anaknya untuk mengajarkan Al Qur’an. Pengajar yang beliau datangkan itu bukanlah seorang pengajar biasa. Dia adalah seorang ulama’ mulia dari Syinqith (Kota Chinguetti di Mauritania, terletak di sebelah timur Mandat Adrar, Mauritania –pen.). Dia adalah seorang yang sangat mahir dalam ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu Qira-at dan Rasmul Qur’an. Banyak ikhwah yang belajar darinya. Saya sendiri belajar darinya dan dia adalah Syaikh saya juga. Sebagian dari biografinya yang elok telah saya sampaikan dalam buku Tabri’ah.
Beliau (pengajar yang didatangkan oleh Syaikh Usamah) itu bukanlah seorang Syaikh biasa. Beliau adalah seorang muhajir dan murabith di jalan Allah. Beliau adalah seorang petempur perwira sebagaimana Syaikh Usamah bin Ladin juga. Beliau memiliki seekor kuda di kampung Arab. Kampung Arab ini juga menyimpan cerita yang sangat panjang. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan supaya saya dapat menceritakan kampung yang penuh berkah ini. Sebuah kampung yang hebat yan belum pernah saya lihat seumur hidupku selain kampung itu. Saya juga tidak pernah merasakan bahagia sebagaimana kebahagiaan saya ketika tinggal di kampung yang sangat sederhana ini.
Syaikh tersebut memiliki seekor kuda yang kemudian Syaikh Usamah membelinya lalu beliau gabungkan dalam koleksi kuda beliau. Kami dulu selalu pergi belajar kepada Syaikh ini dan beliau pun memperlakukan kami dengan hormat, menyiapkan teh asal Muritania yang khas dengan tangan beliau sendiri. Beliau menyiapkan makanan buat kami. Kami katakan kepada beliau: “Jangan wahai Syaikh, karena engkau adalah Syaikh kami.” Beliau tidak pernah mengijinkan sama sekali, beliau harus melayani kami dengan tangan beliau sendiri.
Syaikh DR. Mahfudh Waladul Walid Al-Muritani (ulama dan mujahid dari Mauritania yang menjadi guru privat mujahidin Arab dan anak-anak syaikh Usamah bin Ladin di Afghan).
Saya ingat dulu saya pernah meminta kepada beliau supaya saya dapat belajar kepada beliau mengenai Ulumul Qur’an dan bahasa Arab. Lalu beliau mengatakan kepadaku: “Kita mulai pertama dengan membenarkan bacaan Al-Qur’an. Karena Kitabullah itu lebih berhak untuk diperhatikan daripada perkataan manusia. Setelah itu baru kita belajar ilmu-ilmu bahasa Arab.” Hal ini sebagaimana yang telah saya ceritakan sebelumnya dalam buku At Tabri-ah.
Pertama kali beliau membacakan kepada saya sebuah muqadimah sedang (tidak panjang dan tidak pendek) tentang Tajwid. Setelah itu kami mempelajari Nudhum Al- Jazariyah. Dan beliau masya Allah merupakan lautan ilmu, namun kalau menjelaskan pelajaran kepada kami, beliau membeberkannya dengan sangat panjang lebar. Sampai-sampai saya pernah melihat beliau di masjid kampung, beliau menjelaskan ilmu tajwid kepada para ikhwah dengan sangat panjang lebar.
Misalnya beliau pernah menjelaskan tentang perbendaan antara ikhfa’ dan idgham, beliau membawa sesuatu dan mengatakan kepada para ikhwah: “Sesuatu ini saya masukkan dalam jubahku ini. Inilah yang dimaksud dengan ikhfa’. Sesuatu ini sudah tidak ada lagi bekasnya, inilah yang dimaksud idgham.” Begitulah beliau menjelaskannya dengan sangat mudah.
Waktu itu ketika saya ikut pelajaran beliau dengan materi Al-Jazariyah, terkadang ikut bersama saya Syaikh Abu Hafsh Al-Kumandani, dan terkadang ikut juga Syaikh Abu Ubaidah Al-Mauritani yang telah syahid — semoga Allah merahmati beliau. Beliau sendiri yang melayani kami. Terkadang ketika kami pulang dari tempat beliau, beliau ikut bersama kami pergi ke pasar, tiba-tiba beliau membelikan buah-buahan buat saya. Saya katakan kepada beliau: “Wahai Maulana, ini adalah kewajibanku.” Beliau menjawab: “Tidak … tidak … tidak. Ini bukan untukmu tapi ini untuk Muhammad, anakmu. Jangan kamu tolak!”
Satu saat lagi tiba-tiba beliau membelikan ikan. Saya katakan kepada beliau: “Wahai Maulana, ini adalah kewajibanku. Bagaimana ini?!”  Beliau menjawab: “Tidak … tidak … tidak. Ini untuk Muhammad, anakmu.”
Orang mulia ini, yang saya mendapatkan kehormatan untuk belajar dari beliau, adalah ustadznya anak-anak Syaikh Usamah dalam menghafal Al Qur’an. Beliau sangat keras dalam memperlakukan mereka. Saya ingat suatu kali pernah beliau berteriak kepada salah seorang anak Syaikh Usamah: “Wahai bocah, kamu tidak bisa diajak bicara, yang bisa diajak bicara adalah ayahmu. Kamu hanya bisa diomongi dengan tongkat.” Sementara anak-anak Syaikh Usamah dalam keadaan tunduk dan diam. Mereka tidak sanggup memandang beliau, karena mereka memiliki adab yang telah mereka pelajari dari Syaikh Usamah terhadap ustadz-ustadz mereka.
Muhammad ‘Athif als Abu Hafs Al-Kumandani als Abu Hafs Al-Mishri
Tentu saja Syaikh Al-Muritani ini sangat serius dalam masalah tarbiyah, sampai–sampai terkadang di masjid kampung beliau mengajarkan materi tarbiyah. Beliau menjelaskan kitab Tarbiyatul Abna’ Fil Islam, dan beliau sangat memperhatikan masalah tarbiyah ini.
Saya ingat, anak-anak Syaikh Usamah sangat rekat dengan beliau. Di medan-medan perang dan di daerah-daerah perbatasan perang, mereka menjaga beliau sebagaimana anak-anak singa menjaga induknya, mereka tidak pernah berpisah dengan bayangannya. Mereka menjaga beliau dengan mempertaruhkan nyawa mereka.
Keterikatan anak-anak Syaikh Usamah dan juga para pengawal Syaikh Usamah dengan Syaikh ini ada kisahnya tersendiri, insya Allah akan kami ceritakan, akan tetapi ingatan saya masih tumpang-tindih. Saya ingat dua peristiwa yang terjadi antara anak-anak Syaikh Usamah dengan Syaikh ini dan anak-anaknya. Dua peristiwa yang sangat-sangat menyentuh perasaan.
Peristiwa pertama: Dahulu ketika kami di Jalalabad, ketika orang-orang munafik telah menguasai Jalalabad. Ketika itu kami memutuskan untuk mendaki gunung Tora Bora. Pada saat itu anak-anak Syaikh Usamah telah datang  bersamanya. Kami sudah memperkirakan bahwa keadaannya akan berjalan seperti ini, dan Kabul akan jatuh. Dan demikianlah yang terjadi. Waktu itu beberapa anak Syaikh Usamah yang masih kecil, di antaranya adalah Khalid — semoga Allah merahmatinya, dia syahid bersama Syaikh Usamah dalam peristiwa penyergapan ayahnya —. Dialah yang paling besar dan ada lagi dua orang yang umurnya lebih muda daripada Khalid. Kami memutuskan untuk bergerak. Kami keluar dari kota dan kami putuskan untuk mendaki gunung Tora Bora ketika waktu Maghrib.
Pada waktu antara Ashar dan Maghrib datang salah seorang ikhwah, dan Syaikh Al-Muritani tersebut mempersilahkan anak-anak syaikh Usamah untuk menyalami ayah mereka. Ikhwah ini adalah orang yang diamanahi oleh Syaikh Usamah untuk membawa anak-anak tersebut ke tempat yang aman, untuk kemudian membawa mereka kepada keluarganya sehingga mereka bisa berkumpul dengan keluarga Syaikh Usamah.
Kemudian tibalah saat perpisahan. Syaikh Usamah membawa mereka menyendiri agak jauh, sedangkan saya memperhatikan peristiwa ini dari jauh dengan perasaan yang sangat haru. Seorang ayah berpamitan dengan tiga orang anaknya yang masih kecil, sementara mereka tidak tahu kapan akan bertemu lagi. Di duniakah atau di akhirat? Apakah ini awal wasiat buat mereka ataukah wasiat terakhir? Syaikh Usamah berpamitan dengan mereka, bersalaman dengan mereka dan mengatakan kepada mereka: “Kalian pergi dengan om kalian ini. Insya Allah dia akan membawa kalian kepada keluarga.” Anak-anak yang besar, air mata mereka mengalir, Syaikh Usamah sangat terharu, sedangkan anak yang kecil sangat kasihan tidak mengerti apa yang terjadi.
Tapi anak yang terkecil ini mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Tapi abi, tas sekolahku di Kabul, saya mau tas sekolahku.” Kabul telah jatuh ke tangan bangsa Salib. Syaikh Usamah mengatakan kepada anaknya yang masih kecil tersebut: “Insya Allah semuanya baik sayangku. Insya Allah om nanti akan memberimu tas sekolah lagi.” Kemudian mereka berpisah. Peristiwa yang sangat mengharukan. Seorang bapak meninggalkan anak-anaknya. Tidak tahu di mana dan kapan ia akan bertemu lagi dengan mereka. Mereka pun meninggalkan bapak mereka dan tidak tahu kapan dan di mana akan ketemu lagi.
Peristiwa satu lagi, yang membuatku sangat hormat kepada Syaikh Usamah adalah ketika kami mulai bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Waktu itu ada bersama kami salah satu anak Syaikh Usamah, yang menyertai kami selama serangan yang dilancarkan oleh bangsa Salibis. Kami mengendarai mobil dengan penuh tawakal kepada Allah, dan menderita. Sebuah mobil semi truk yang mengangkut kami dalam kegelapan. Di suatu titik tertentu mobil ini mogok. Anak Syakh Usamah ini pun turun bersama dengan penunjuk jalan menuju tempat lain sementara kami menuju tempat yang lain lagi.
Dalam kondisi seperti ini di tengah-tengah kegelapan, Syaikh Usamah turun untuk berpamitan dengan anaknya, dan tidak ada yang tahu selain Allah SWT apakah mereka akan bertemu lagi atau tidak. Apa kiranya yang dikatakan Syaikh Usamah pada saat seperti itu? Beliau mengatakan kepada anaknya: “Wahai anakku kita tetap dalam janji kita, kita tetap dalam jihad fi sabilillah.” Sebuah peristiwa yang sangat besar, yang saya ingat yang dialami Syaikh Usamah.
Saya cukupkan sampai di sini. Insya Allah kita bertemu lagi dengan kisah Syaikh Usamah, Sang Imam dan pembaharu, dalam pertemuan yang lain.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
(unwanul falah/arrahmah.com)
Tag :

The great story about Syaikh Usamah bin Ladin: Hari-hari bersama sang Imam (1)


Di antara kelompok ulama dan komandan mujahidin Al-Qaeda yang menyertai syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah dalam waktu yang sangat lama dan sampai hari ini masih meneruskan jihad fi sabilillah melawan aliansi zionis-salibis internasional, syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri mungkin nama yang paling menonjol. Selain saat ini menjadi pemimpin tertinggi mujahidin Al-Qaeda, beliau sejak tahun 1996 turut membidani lahirnya front perlawanan Islam semesta terhadap aliansi zionis-salibis internasional.




Sebagai tangan kanan syaikh Usamah, beliau memiliki banyak kenangan selama hidup bersama sang pendiri Al-Qaeda. Kenangan-kenangan itulah yang dituturkannya kepada umat Islam, sesuai permintaan para ikhwah mujahidin, sebagai bentuk ketulusan kepada jihad syaikh Usamah. Yayasan media As-Sahab merilis video syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri tersebut pada tanggal 16 November 2011 dengan judul ‘Ayyamun ma’al Imam’. Situs Arrahmah.com menerjemahkannya untuk para pembaca. Semoga bermanfaat.   

بسم الله الرحمن الرحيم 
HARI-HARI BERSAMA SANG IMAM (1)
Oleh:
Dr. Syaikh Aiman Azh-Zhowahiri 
  
Dipublikasikan oleh Media As-Sahab
20 Dzulhijjah 1432 H
16 November 2011 M

Dengan nama Allah … segala puji bagi Allah … Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau.
Ikhwah sekalian, kaum muslimin di manapun antum berada: As Salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Wa ba’du:
 Ikhwan-ikhwan telah meminta kepadaku — semoga Allah memberikan pahala yang baik kepada mereka — agar saya bercerita tentang beberapa kenanganku bersama sang Imam dan pembaharu, seorang Syaikh dan Mujahid, yang menghidupkan kembali kewajiban jihad pada jaman ini, sang singa Islam, Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau —. Para Ikhwah juga meminta saya agar bercerita tentang sisi kemanusiaan dalam keseharian beliau, yang bisa jadi tidak diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Sisi yang penting dan mulia ini, yang mana semua orang yang pernah hidup bersama manusia satu ini mendapat kemuliaan dengan berkesempatan bergaul dengan beliau. Seorang manusia yang memiliki akhlak yang luhur, perasaan yang mulia, dermawan dan lapang dada.
Sebenarnya saya — al hamdulillah — telah mendapat kemuliaan dari Allah dengan bergaul bersama laki-laki ini dalam waktu yang cukup lama, baik ketika bepergian maupun ketika menetap, dan juga dalam berbagai macam kondisi. Al Hamdulillah, saya telah melihat sendiri sisi-sisi kehidupan beliau yang sangat agung dan mulia. Saya ingin menceritakan sebagiannya kepada ikhwah sekalian, kaum muslimin, sebagaimana permintaan para ikhwan.
Saya sendiri meminta kepada para ikhwah agar saya bercerita secara lepas, yakni sesuai dengan apa yang muncul dalam perasaan, karena kenangan bersama Syaikh Usmah ini — masya Allah — sangat banyak dan bermacam-macam, di mana terdapat banyak sekali hikmah, pelajaran dan arahan-arahan yang beliau berikan. Beberapa di antaranya telah saya tulis dalam beberapa poin dalam kertas, dan insya Allah saya akan ceritakan kepada antum kenangan-kenangan baik yang saya ingat dalam kesempatan ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita dan memberikan kesempatan-kesempatan lain untuk bercerita tentang kemuliaan laki-laki mulia ini.
Di antara yang paling penting dari sifat beliau yang dirasakan semua orang yang bergaul dengan beliau — semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada beiau dan menyusulkan kita dengan beliau di surga Firdaus yang paling tinggi — adalah bahwa beliau ini sangat tulus kepada para ikhwah beliau. Beliau selalu mengingatkan para ikhwah ­agar berbuat kebaikan dan senantiasa meluruskan perbuatan-perbuatan mereka.
Memang Syaikh Usamah adalah orang yang berakhlak mulia, santun, bukan orang dungu, bukan orang yang bersuara keras dan juga bukan orang yang jahil. Akan tetapi beliau sangat bersedih apabila beliau merasakan ada ikhwah beliau dalam jihad ini yang didholimi, atau belum mendapatkan haknya secara layak. Dan memang, di antara ikhwah yang pernah hidup bersama beliau — semoga Allah merahmati mereka semua — adalah Asy Syahid Abu Ubaidah Al-Bansyiri. Beliau ibarat sebuah gunung dalam jihad di jaman ini, yang belum memperoleh haknya secara layak untuk dikenalkan. Juga Fadlilatusy Syaikh Abu Hafsh Al-Mishri, sang komandan dan mujahid, atau yang dikenal dengan Abu Hafsh Al-Kumandani — semoga Allah merahmati beliau dan juga para syuhada’ yang lain —. Syaikh Usamah selalu menceritakan kebaikan mereka dan mendoakan mereka agar dirahmati Allah. Saya ingat suatu saat beliau mengatakan kepadaku: “Segala puji bagi Allah  yang telah mendatangkanku ke bumi jihad sehingga saya dapat berkenalan dengan Abu Ubaidah”. Saya ingat, di masa serangan yang dilancarkan Amerika Salibis terhadap Afghanistan ini, beliau pernah membaca di beberapa media reportase yang mencibir dua singa dan dua pahlawan besar yang mulia tersebut. Maka beliau pun mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Bantahlah mereka yang mencibir dua saudara kita ini!” Saya sendiri telah menyebutkan sebagian dari keutamaan yang dimiliki kedua ikhwah tersebut dalam pembicaraanku dan dalam buku Fursan Tahta Rayatin Nabi cetakan II.
Selain itu Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — juga banyak bercerita tentang Syaikh Abdullah Azzam, seorang Syaikh, imamul jihad di jaman ini, semoga Allah merahmati beliau, tentang kebaikannya dan selalu memuji beliau. Syaikh Usamah bin Ladin pernah mengatakan bahwa orang ini (Syaikh Abdullah Azzam) telah menghidupkan kembali jihad di jaman ini. Dan Syaikh Usamah sering kali memuji beliau 
Selain itu Syaikh Usamah juga sering mengatakan yang baik-baik dan terbawa perasaan beliau ketika bercerita tentang 19 ikhwah yang telah melakukan serangan terhadap berhala Hubal jaman ini, Amerika, di Pentagon — markas militer — dan New York — simbol kedikdayaan ekonominya —. Sementara pesawat yang keempat tengah menuju Gedung Putih atau ke Gedung Kongres. Beliau menceritakan tentang mereka dengan penuh ketulusan. Saya, dan juga antum, ingat bahwa pesan yang pertama kali syaikh Usamah sampaikan setelah dimulainya serangan Salibis di Tora Bora. Dalam pesannya itu beliau menyampaikan kata-kata dukungan kepada 19 ikhwah tersebut. Antum semua juga ingat bagaimana penampilan Syaikh Usamah dalam menyampaikan pesan pertamanya itu, kelihatan beliau sangat lelah, capek, lesu dan seterusnya. Kondisi semacam ini kami semua mengalaminya lantaran cuaca yang sangat-sangat dingin ditambah lagi makanan yang sedikit dan kurang tidur, persediaan air sangat kurang dan air membeku. Sampai-sampai air yang berada 500 m (di bawah puncak gunung Tora Bora) pun juga telah membeku. Dalam kondisi yang sangat berat seperti ini, sementara musuh bersama orang-orang munafik mengepung kami, kaum Salib membombardar dari atas, namun Syaikh Usamah tetap bersikukuh untuk merekam pesan-pesan beliau sebagai bentuk kesetiaan beliau terhadap 19 ikhwah tersebut. Seolah beliau khawatir syahid menjemput beliau di tempat tersebut sementara beliau belum sempat menyampaikan dukungan beliau terhadap para ikhwah perwira tersebut.
Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Aiman Adh Dhawahiri, dan Syaikh Abu Hafs Al Misri, di Tora Bora pada tanggal 20 Rajab 1422 H / 7 Oktober 2001 M
Tentu, insya Allah dalam kesempatan lain saya akan  kembali untuk bercerita tentang Tora Bora dengan berbagai sikap kepahlawanan dan teladan-teladan indah yang dipersembahkan oleh para pemuda Islam di Tora Bora, dan insya Allah kami akan bercerita lebih rinci masalah ini. Di Tora Bora kami semua sudah pasrahkan semua urusan kami kepada Allah SWT. Musuh — orang-orang munafik — mengepung kami, sementara NATO membombardir kami dari atas. Kami membayangkan bahwa bumi ini akan menjadi arang setiap saat. Sementara para ikhwah telah menyiapkan diri mereka untuk berperang sampai mati. Namun tentu saja, akan kami ceritakan nanti, ternyata ketakutan kaum Salib sangatlah besar. Mereka ketakutan meskipun mereka memiliki kekuatan yang selalu mereka bangga-banggakan, bahwa mereka adalah bangsa paling perkasa dalam sepanjang sejarah manusia. Para penggemar film Hollywood itu takut semua untuk masuk wilayah Tora Bora yang ditempati 300 singa Islam. Inilah salah satu sebab Allah mentakdirkan Syaikh Usamah bin Ladin keluar untuk melanjutkan lagi pertempuran dan pertarungan dengan bangsa Salib itu. Hal itu supaya seluruh kaum muslimin paham bahwa Allah SWT itu Mahakuasa, dan bahwa Allah SWT sendiri telah menjelaskan perihal siapa sejatinya para Salibis tersebut. Allah SWT berfirman:
(إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللهِ مَا لَا يَرْجُونَ).
Jika kalian merasa sakit maka sesungguhnya mereka pun merasakan sakit sebagaimana kalian merasa sakit. Namun kalian memiliki harapan dari Allah sementara mereka tidak. (QS. An-Nisa’ (4): 104)

Intinya, dalam kondisi yang sulit ini Syaikh Usamah terus bersikukuh untuk merekam pesan-pesannya meskipun dalam kondisi sebagaimana yang antum lihat sendiri, sebagai bentuk kesetiaan beliau kepada 19 ikhwah tersebut.
Setelah itu, setelah Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — keluar dari Tora Bora, pesan pertama kali yang beliau sampaikan adalah beliau menjelaskan satu persatu nama 19 ikhwah tersebut.
Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau — sangat setia dan tulus terhadap Syaikh Abu Abdur Rahman Al-Kindi. Syaikh Usamah pernah mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Ceritakan apa-apa saja yang dilakukan orang ini supaya semua orang mengenalnya dan mengenal jasa-jasanya!” Maka saya ceritakan itu di salah satu pesan saya. Di sana saya ceritakan tentang hijrah beliau, kedermawanan beliau, kebaikan beliau, dan bahwa beliau terbunuh dalam kondisi menghadapi musuh, tidak lari ke belakang dalam perang melawan kaum Salib.
Syaikh Usamah juga sangat tulus dan setia dengan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — semoga Allah merahmatinya —. Syaikh Usamah pernah mengatakan kepadaku: “Orang ini telah mengorbankan dirinya untuk kita.” Karena Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi … mungkin akan saya ceritakan lagi insya Allah ketika membahas kronologi yang lebih rinci tentang Tora Bora, jika Allah mengijinkan … Komandan militer pasukan Islam yang berjihad di Tora Bora adalah Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi. Syaikh Usamah menyerahkan usaha mengeluarkan sebagian besar ikhwah dari Tora Bora kepada Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, sebagaimana yang akan saya ceritakan secara lebih rinci nanti insya Allah, bagaimana kecerdasan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi di bidang strategi dan lapangan, lantaran karunia Allah semata. Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi diserahi tanggung jawab untuk mengeluarkan mereka dari Tora Bora ke Pakistan. Tugas yang sangat-sangat berat dan penting ini pun berhasil beliau laksanakan dengan sukses, dalam situasi yang sangat berat, cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan dikepung. Beliau meloloskan diri bersama mereka dari kepungan orang-orang munafik. Beliau meloloskan diri bersama mereka di bawah hujan bom yang dihamburkan oleh bangsa Salib yang mana pada saat itu telah menguasai seluruh wilayah Afghanistan dan tinggal Tora Bora saja yang belum mereka kuasai, yang saat itu tengah mereka gempur. Beliau berhasil lolos bersama mereka ke wilayah perbatasan Pakistan. Sementara di Pakistan kaum Salib tidak berhasil menangkap para ikhwah tersebut kecuali dengan bantuan pengkhianatan yang dilakukan beberapa kabilah Pakistan — dan kisah ini sudah umum diketahui —. Intinya ketika Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi ditempatkan di penjara Kuhat, beliau membawa uang yang banyak untuk mengurusi para ikhwah yang bersama beliau tersebut. Maka para petinggi militer Pakistan yang biasa menerima suap dan berkhianat pun menawar beliau agar menyerahkan uang tersebut dan sebagai gantinya mereka akan melepaskannya dan mereka akan menghapus namanya sehingga seolah beliau tidak tertangkap. Sementara Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — supaya semua orang kenal pahlawan satu ini dan supaya para ikhwah beliau di Libia mengikuti jejak beliau, yang insya Allah pembelaan mereka adalah pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin, dan semoga ada di antara mereka ribuan Ibnusy Syaikh Al-Libi yang akan menggantikan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, insya Allah —. Ketika para petinggi militer Pakistan itu mengutarakan tawaran mereka tersebut, beliau menjawab: “Tidak! Saya tidak akan meninggalkan ikhwan-ikhwan saya. Tapi kalau kalian mau saya akan berikan kepada kalian uang ini kepada kalian, bahkan lebih, jika kalian mau mengeluarkan kami semua.” Maka para petinggi militer Pakistan itu pun menolak sehingga Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi tetap dalam tahanan bersama para ikhwah yang bersama beliau sampai akhirnya pemerintahan jahat Qaddafi membunuhnya. Insya Allah para ikhwah mujahidin Libia yang punya harga diri, dan bahkan semua orang Libia yang berjiwa perwira, yang mengalir dalam aliran darahnya kecintaan terhadap Islam dan Nabi SAW, akan membalaskan untuk sang singa dari Libia ini terhadap kejahatan Qaddafi, juga terhadap kejahatan Barat bangsa Salib, NATO, yang telah menyiksa dan menyerahkan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi kepada Qaddafi untuk dibunuhnya.
Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi alias Ali Muhammad Abdul Aziz Al-Fakhiri (46 th)
Dahulu Syaikh Usamah mengatakan: “Orang ini telah mengorbankan nyawanya untuk kita.” Inilah tafsiran dari apa yang dikatakan oleh Syaikh Usamah bin Ladin.
Selain itu Syaikh Usamah bin Ladin mengirim surat kepada saya selalu menceritakan apa yang pernah dilakukan oleh Syaikh Musthafa Abul Yazid. Syaikh Usamah mengatakan kepada saya: “Orang ini telah berkorban dengan nyawanya dan keluarganya untuk kita.” Maksudnya Syaikh Musthafa Abul Yazid adalah orang yang mengatur urusan para ikhwah mujahidin. Beliau berhubungan dengan para mujahidin, berhubungan dengan Muhajirin, berhubungan dengan Anshar, beliau adalah bapak bagi mereka semua. Harga yang harus beliau bayar untuk kegiatan yang penuh berkah ini, beliau akhirnya terendus oleh para mata-mata NATO kemudian NATO berhasil membunuh beliau bersama keluarga, bahkan juga membunuh anak-anak yatim yang sedang beliau pelihara dan beliau ajari menghafal Al-Qur’an. Semoga Allah merahmati beliau.
Syaikh Musthafa Abul Yazid, sedang diwawancarai oleh wartawan stasiun TV Al-Jazeera
Inilah sisi-sisi ketulusan dan kesetiaan Syaikh Usamah bin Ladin kepada para ikhwannya.  
Bersambung insya Allah…

Tag :

The great story about Syaikh Usamah bin Ladin: Hari-hari bersama sang Imam (1)

Di antara kelompok ulama dan komandan mujahidin Al-Qaeda yang menyertai syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah dalam waktu yang sangat lama dan sampai hari ini masih meneruskan jihad fi sabilillah melawan aliansi zionis-salibis internasional, syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri mungkin nama yang paling menonjol. Selain saat ini menjadi
pemimpin tertinggi mujahidin Al-Qaeda, beliau sejak tahun 1996 turut membidani lahirnya front perlawanan Islam semesta terhadap aliansi zionis-salibis internasional.
Sebagai tangan kanan syaikh Usamah, beliau memiliki banyak kenangan selama hidup bersama sang pendiri Al-Qaeda. Kenangan-kenangan itulah yang dituturkannya kepada umat Islam, sesuai permintaan para ikhwah mujahidin, sebagai bentuk ketulusan kepada jihad syaikh Usamah. Yayasan media As-Sahab merilis video syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri tersebut pada tanggal 16 November 2011 dengan judul ‘Ayyamun ma’al Imam’. Situs Arrahmah.com menerjemahkannya untuk para pembaca. Semoga bermanfaat.   

بسم الله الرحمن الرحيم 
HARI-HARI BERSAMA SANG IMAM (1)
Oleh:
Dr. Syaikh Aiman Azh-Zhowahiri 
  
Dipublikasikan oleh Media As-Sahab
20 Dzulhijjah 1432 H
16 November 2011 M

Dengan nama Allah … segala puji bagi Allah … Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau.
Ikhwah sekalian, kaum muslimin di manapun antum berada: As Salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Wa ba’du:
 Ikhwan-ikhwan telah meminta kepadaku — semoga Allah memberikan pahala yang baik kepada mereka — agar saya bercerita tentang beberapa kenanganku bersama sang Imam dan pembaharu, seorang Syaikh dan Mujahid, yang menghidupkan kembali kewajiban jihad pada jaman ini, sang singa Islam, Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau —. Para Ikhwah juga meminta saya agar bercerita tentang sisi kemanusiaan dalam keseharian beliau, yang bisa jadi tidak diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Sisi yang penting dan mulia ini, yang mana semua orang yang pernah hidup bersama manusia satu ini mendapat kemuliaan dengan berkesempatan bergaul dengan beliau. Seorang manusia yang memiliki akhlak yang luhur, perasaan yang mulia, dermawan dan lapang dada.
Sebenarnya saya — al hamdulillah — telah mendapat kemuliaan dari Allah dengan bergaul bersama laki-laki ini dalam waktu yang cukup lama, baik ketika bepergian maupun ketika menetap, dan juga dalam berbagai macam kondisi. Al Hamdulillah, saya telah melihat sendiri sisi-sisi kehidupan beliau yang sangat agung dan mulia. Saya ingin menceritakan sebagiannya kepada ikhwah sekalian, kaum muslimin, sebagaimana permintaan para ikhwan.
Saya sendiri meminta kepada para ikhwah agar saya bercerita secara lepas, yakni sesuai dengan apa yang muncul dalam perasaan, karena kenangan bersama Syaikh Usmah ini — masya Allah — sangat banyak dan bermacam-macam, di mana terdapat banyak sekali hikmah, pelajaran dan arahan-arahan yang beliau berikan. Beberapa di antaranya telah saya tulis dalam beberapa poin dalam kertas, dan insya Allah saya akan ceritakan kepada antum kenangan-kenangan baik yang saya ingat dalam kesempatan ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita dan memberikan kesempatan-kesempatan lain untuk bercerita tentang kemuliaan laki-laki mulia ini.
Di antara yang paling penting dari sifat beliau yang dirasakan semua orang yang bergaul dengan beliau — semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada beiau dan menyusulkan kita dengan beliau di surga Firdaus yang paling tinggi — adalah bahwa beliau ini sangat tulus kepada para ikhwah beliau. Beliau selalu mengingatkan para ikhwah ­agar berbuat kebaikan dan senantiasa meluruskan perbuatan-perbuatan mereka.
Memang Syaikh Usamah adalah orang yang berakhlak mulia, santun, bukan orang dungu, bukan orang yang bersuara keras dan juga bukan orang yang jahil. Akan tetapi beliau sangat bersedih apabila beliau merasakan ada ikhwah beliau dalam jihad ini yang didholimi, atau belum mendapatkan haknya secara layak. Dan memang, di antara ikhwah yang pernah hidup bersama beliau — semoga Allah merahmati mereka semua — adalah Asy Syahid Abu Ubaidah Al-Bansyiri. Beliau ibarat sebuah gunung dalam jihad di jaman ini, yang belum memperoleh haknya secara layak untuk dikenalkan. Juga Fadlilatusy Syaikh Abu Hafsh Al-Mishri, sang komandan dan mujahid, atau yang dikenal dengan Abu Hafsh Al-Kumandani — semoga Allah merahmati beliau dan juga para syuhada’ yang lain —. Syaikh Usamah selalu menceritakan kebaikan mereka dan mendoakan mereka agar dirahmati Allah. Saya ingat suatu saat beliau mengatakan kepadaku: “Segala puji bagi Allah  yang telah mendatangkanku ke bumi jihad sehingga saya dapat berkenalan dengan Abu Ubaidah”. Saya ingat, di masa serangan yang dilancarkan Amerika Salibis terhadap Afghanistan ini, beliau pernah membaca di beberapa media reportase yang mencibir dua singa dan dua pahlawan besar yang mulia tersebut. Maka beliau pun mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Bantahlah mereka yang mencibir dua saudara kita ini!” Saya sendiri telah menyebutkan sebagian dari keutamaan yang dimiliki kedua ikhwah tersebut dalam pembicaraanku dan dalam buku Fursan Tahta Rayatin Nabi cetakan II.
Selain itu Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — juga banyak bercerita tentang Syaikh Abdullah Azzam, seorang Syaikh, imamul jihad di jaman ini, semoga Allah merahmati beliau, tentang kebaikannya dan selalu memuji beliau. Syaikh Usamah bin Ladin pernah mengatakan bahwa orang ini (Syaikh Abdullah Azzam) telah menghidupkan kembali jihad di jaman ini. Dan Syaikh Usamah sering kali memuji beliau 
Selain itu Syaikh Usamah juga sering mengatakan yang baik-baik dan terbawa perasaan beliau ketika bercerita tentang 19 ikhwah yang telah melakukan serangan terhadap berhala Hubal jaman ini, Amerika, di Pentagon — markas militer — dan New York — simbol kedikdayaan ekonominya —. Sementara pesawat yang keempat tengah menuju Gedung Putih atau ke Gedung Kongres. Beliau menceritakan tentang mereka dengan penuh ketulusan. Saya, dan juga antum, ingat bahwa pesan yang pertama kali syaikh Usamah sampaikan setelah dimulainya serangan Salibis di Tora Bora. Dalam pesannya itu beliau menyampaikan kata-kata dukungan kepada 19 ikhwah tersebut. Antum semua juga ingat bagaimana penampilan Syaikh Usamah dalam menyampaikan pesan pertamanya itu, kelihatan beliau sangat lelah, capek, lesu dan seterusnya. Kondisi semacam ini kami semua mengalaminya lantaran cuaca yang sangat-sangat dingin ditambah lagi makanan yang sedikit dan kurang tidur, persediaan air sangat kurang dan air membeku. Sampai-sampai air yang berada 500 m (di bawah puncak gunung Tora Bora) pun juga telah membeku. Dalam kondisi yang sangat berat seperti ini, sementara musuh bersama orang-orang munafik mengepung kami, kaum Salib membombardar dari atas, namun Syaikh Usamah tetap bersikukuh untuk merekam pesan-pesan beliau sebagai bentuk kesetiaan beliau terhadap 19 ikhwah tersebut. Seolah beliau khawatir syahid menjemput beliau di tempat tersebut sementara beliau belum sempat menyampaikan dukungan beliau terhadap para ikhwah perwira tersebut.

Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Aiman Adh Dhawahiri, dan Syaikh Abu Hafs Al Misri, di Tora Bora pada tanggal 20 Rajab 1422 H / 7 Oktober 2001 M
Tentu, insya Allah dalam kesempatan lain saya akan  kembali untuk bercerita tentang Tora Bora dengan berbagai sikap kepahlawanan dan teladan-teladan indah yang dipersembahkan oleh para pemuda Islam di Tora Bora, dan insya Allah kami akan bercerita lebih rinci masalah ini. Di Tora Bora kami semua sudah pasrahkan semua urusan kami kepada Allah SWT. Musuh — orang-orang munafik — mengepung kami, sementara NATO membombardir kami dari atas. Kami membayangkan bahwa bumi ini akan menjadi arang setiap saat. Sementara para ikhwah telah menyiapkan diri mereka untuk berperang sampai mati. Namun tentu saja, akan kami ceritakan nanti, ternyata ketakutan kaum Salib sangatlah besar. Mereka ketakutan meskipun mereka memiliki kekuatan yang selalu mereka bangga-banggakan, bahwa mereka adalah bangsa paling perkasa dalam sepanjang sejarah manusia. Para penggemar film Hollywood itu takut semua untuk masuk wilayah Tora Bora yang ditempati 300 singa Islam. Inilah salah satu sebab Allah mentakdirkan Syaikh Usamah bin Ladin keluar untuk melanjutkan lagi pertempuran dan pertarungan dengan bangsa Salib itu. Hal itu supaya seluruh kaum muslimin paham bahwa Allah SWT itu Mahakuasa, dan bahwa Allah SWT sendiri telah menjelaskan perihal siapa sejatinya para Salibis tersebut. Allah SWT berfirman:
(إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللهِ مَا لَا يَرْجُونَ).
Jika kalian merasa sakit maka sesungguhnya mereka pun merasakan sakit sebagaimana kalian merasa sakit. Namun kalian memiliki harapan dari Allah sementara mereka tidak. (QS. An-Nisa’ (4): 104)

Intinya, dalam kondisi yang sulit ini Syaikh Usamah terus bersikukuh untuk merekam pesan-pesannya meskipun dalam kondisi sebagaimana yang antum lihat sendiri, sebagai bentuk kesetiaan beliau kepada 19 ikhwah tersebut.
Setelah itu, setelah Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — keluar dari Tora Bora, pesan pertama kali yang beliau sampaikan adalah beliau menjelaskan satu persatu nama 19 ikhwah tersebut.
Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau — sangat setia dan tulus terhadap Syaikh Abu Abdur Rahman Al-Kindi. Syaikh Usamah pernah mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Ceritakan apa-apa saja yang dilakukan orang ini supaya semua orang mengenalnya dan mengenal jasa-jasanya!” Maka saya ceritakan itu di salah satu pesan saya. Di sana saya ceritakan tentang hijrah beliau, kedermawanan beliau, kebaikan beliau, dan bahwa beliau terbunuh dalam kondisi menghadapi musuh, tidak lari ke belakang dalam perang melawan kaum Salib.
Syaikh Usamah juga sangat tulus dan setia dengan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — semoga Allah merahmatinya —. Syaikh Usamah pernah mengatakan kepadaku: “Orang ini telah mengorbankan dirinya untuk kita.” Karena Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi … mungkin akan saya ceritakan lagi insya Allah ketika membahas kronologi yang lebih rinci tentang Tora Bora, jika Allah mengijinkan … Komandan militer pasukan Islam yang berjihad di Tora Bora adalah Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi. Syaikh Usamah menyerahkan usaha mengeluarkan sebagian besar ikhwah dari Tora Bora kepada Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, sebagaimana yang akan saya ceritakan secara lebih rinci nanti insya Allah, bagaimana kecerdasan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi di bidang strategi dan lapangan, lantaran karunia Allah semata. Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi diserahi tanggung jawab untuk mengeluarkan mereka dari Tora Bora ke Pakistan. Tugas yang sangat-sangat berat dan penting ini pun berhasil beliau laksanakan dengan sukses, dalam situasi yang sangat berat, cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan dikepung. Beliau meloloskan diri bersama mereka dari kepungan orang-orang munafik. Beliau meloloskan diri bersama mereka di bawah hujan bom yang dihamburkan oleh bangsa Salib yang mana pada saat itu telah menguasai seluruh wilayah Afghanistan dan tinggal Tora Bora saja yang belum mereka kuasai, yang saat itu tengah mereka gempur. Beliau berhasil lolos bersama mereka ke wilayah perbatasan Pakistan. Sementara di Pakistan kaum Salib tidak berhasil menangkap para ikhwah tersebut kecuali dengan bantuan pengkhianatan yang dilakukan beberapa kabilah Pakistan — dan kisah ini sudah umum diketahui —. Intinya ketika Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi ditempatkan di penjara Kuhat, beliau membawa uang yang banyak untuk mengurusi para ikhwah yang bersama beliau tersebut. Maka para petinggi militer Pakistan yang biasa menerima suap dan berkhianat pun menawar beliau agar menyerahkan uang tersebut dan sebagai gantinya mereka akan melepaskannya dan mereka akan menghapus namanya sehingga seolah beliau tidak tertangkap. Sementara Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — supaya semua orang kenal pahlawan satu ini dan supaya para ikhwah beliau di Libia mengikuti jejak beliau, yang insya Allah pembelaan mereka adalah pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin, dan semoga ada di antara mereka ribuan Ibnusy Syaikh Al-Libi yang akan menggantikan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, insya Allah —. Ketika para petinggi militer Pakistan itu mengutarakan tawaran mereka tersebut, beliau menjawab: “Tidak! Saya tidak akan meninggalkan ikhwan-ikhwan saya. Tapi kalau kalian mau saya akan berikan kepada kalian uang ini kepada kalian, bahkan lebih, jika kalian mau mengeluarkan kami semua.” Maka para petinggi militer Pakistan itu pun menolak sehingga Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi tetap dalam tahanan bersama para ikhwah yang bersama beliau sampai akhirnya pemerintahan jahat Qaddafi membunuhnya. Insya Allah para ikhwah mujahidin Libia yang punya harga diri, dan bahkan semua orang Libia yang berjiwa perwira, yang mengalir dalam aliran darahnya kecintaan terhadap Islam dan Nabi SAW, akan membalaskan untuk sang singa dari Libia ini terhadap kejahatan Qaddafi, juga terhadap kejahatan Barat bangsa Salib, NATO, yang telah menyiksa dan menyerahkan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi kepada Qaddafi untuk dibunuhnya.

Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi alias Ali Muhammad Abdul Aziz Al-Fakhiri (46 th)
Dahulu Syaikh Usamah mengatakan: “Orang ini telah mengorbankan nyawanya untuk kita.” Inilah tafsiran dari apa yang dikatakan oleh Syaikh Usamah bin Ladin.
Selain itu Syaikh Usamah bin Ladin mengirim surat kepada saya selalu menceritakan apa yang pernah dilakukan oleh Syaikh Musthafa Abul Yazid. Syaikh Usamah mengatakan kepada saya: “Orang ini telah berkorban dengan nyawanya dan keluarganya untuk kita.” Maksudnya Syaikh Musthafa Abul Yazid adalah orang yang mengatur urusan para ikhwah mujahidin. Beliau berhubungan dengan para mujahidin, berhubungan dengan Muhajirin, berhubungan dengan Anshar, beliau adalah bapak bagi mereka semua. Harga yang harus beliau bayar untuk kegiatan yang penuh berkah ini, beliau akhirnya terendus oleh para mata-mata NATO kemudian NATO berhasil membunuh beliau bersama keluarga, bahkan juga membunuh anak-anak yatim yang sedang beliau pelihara dan beliau ajari menghafal Al-Qur’an. Semoga Allah merahmati beliau.

Syaikh Musthafa Abul Yazid, sedang diwawancarai oleh wartawan stasiun TV Al-Jazeera
Inilah sisi-sisi ketulusan dan kesetiaan Syaikh Usamah bin Ladin kepada para ikhwannya.  
Bersambung insya Allah…


Tag :

VIDEO “Syaikh Usamah orang yang lembut & baik” (bisa di download)



AFGHANISTAN– Departemen Media As-Sahab menghadirkan Episode Pertama dari video bertajuk “Hari-Hari Bersama Sang Imam”. Video ini berisi penuturan Syekh Ayman Adz Dzawahiri-semoga Allah menjaga beliau- yang menjelaskan bagaimana sosok Syekh Usamah bin Laden-rahimahullah-yang selama ini tidak terungkapkan. Syekh Usamah Bin Laden adalah orang yang lembut dan baik, ujar beliau. Subhanallah!
Hari-Hari Bersama Sang Imam
Di beberapa situs jihad hari ini, Rabu (16/11/2011) muncul video besutan Departemen Media As-Sahab bertajuk “Hari-Hari Bersama Sang Imam”. Video bagian pertama yang berdurasi 30 menit ini berisi penuturan Syekh Ayman Adz Dzawahiri-semoga Allah menjaga beliau-ketika menghabiskan waktunya bersama Sang Imam, Syekh Usamah bin Laden, rahimahullah. Di video tersebut Syekh Ayman mengatakan bahwa Syekh Usamah Bin Laden adalah orang yang lembut dan baik.
Berjubah dan bersurban putih, dengan senapan otomatis di tangan, Syekh Ayman Adz Zawahiri, pimpinan Al Qaeda saat ini menggambarkan bahwa Syekh Usamah bin Laden adalah orang yang sangat halus perasaannya.
“Orang tidak tahu bahwa lelaki ini lembut, ramah, baik, dengan perasaan yang halus, meski ketika hidup sedang sulit. Kami tidak pernah melihat ada lelaki seperti dia.”
Syekh Usamah tak Terlupakan
Dalam video tersebut Syekh Ayman menceritakan pegalaman beliau ketika pertama kali bertemu dengan Syekh Usamah, pertengahan tahun 1980 ketika bersama-sama berjihad di Afghanistan mengusir kafir Rusia. Syekh Ayman merasa mendapatkan sebuah kehormatan besar bisa berteman dan menghabiskan waktu bersama dengan Syekh Usamah bin Laden.
Beliau juga menceritakan  bagaimana reaksi Syekh Usamah ketika dia menerima kabar ada sejumlah anggota keluarga Syekh Ayman tewas dibunuh. Dengan beruraian air mata, Syekh Usamah Bin Laden datang kepadanya dan memeluk dirinya.
Beliau menambahkan bahwa Syekh Usamah Bin Laden menaruh perhatian kepada anaknya, memberi perhatian besar dan menjamin bahwa mereka mendapat pendidikan yang layak, meski dia sendiri harus berpindah-pindah tempat.
Dalam video tersebut juga dituturkan bagaimana Syekh Usamah Bin Laden selalu mengingat 19 pemuda pemberani yang melakukan aksi besar 11 September, dan mengharapkan agar hal tersebut tidak pernah dilupakan.
“Dia akan selalu mengingat dengan kebaikan dan penghormatan atas 19 saudara kita yang menyerang idola generasi saat ini, Amerika.”
Beberapa situs dan forum-forum jihad menyediakan link untuk mendownload video bagian pertama “Hari-Hari Bersama Sang Imam” terbitan Departemen Media As-Sahab ini. Allahu Akbar!
Download film: “Hari-Hari Bersama Sang Imam” (bahasa arab)


Resolusi Tinggi 
325.24 MB 
fILE 1

fiLE 2
Resolusi Menengah 
88.67 MB 
FILE 1

Resolusi Rendah 
33.69 MB 

FILE 1

FILE 2
Mobile Version50.30 MB 
FILE 1


FILE 2



Tag :

The Untold Story: Kisah-kisah nyata syaikh Usamah bin Ladin yang belum pernah dipublikasikan (4/tamat)

Bagaimana taktik syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah untuk menguras energi, personil, dan persenjataan Amerika dan sekutunya di pegunungan Afghan sejak invasi militer pada bulan Oktober 2011? Di tengah gencarnya bombardir militer ISAF terhadap posisi mujahidin Afghan, bagaimana cara syaikh Usamah membangkitkan semangat tempur para komandan dan ikhwah mujahidin? Bagaimana jalannya perang dalam masa-masa paling berat pasca mundurnya Taliban dari Kabul tersebut? Asadul Jihad ats-Tsani menuturkan kembali momen-momen krusial tersebut dalam artikel berikut ini.
Kisah # 43
Syaikh Usamah bukan tipe orang yang memaksakan kehendaknya dalam urusan militer maupun urusan strategi. Beliau juga belum pernah diketahui memaksakan pendapat pribadinya. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, beliau selalu bermusyawarah dalam mengambil keputusan.
Kisah # 44
Pernah beliau memberikan arahan kepada mujahidin untuk pergi dari Afghanistan ke Kuwait pada saat Saddam Husain menyerang Kuwait. Arahan itupun dilaksanakan. Pada saat Saddam Husain melancarkan serangan pada tanggal 2 Agustus 1990, para ikhwah mujahidin telah sampai di Kuwait pada tanggal 10 Agustus 1990, hanya berselang 8 hari saja. Pada saat itu Syaikh Usamah terus memantau reaksi negara-negara Arab. Beliau berpendapat untuk melakukan gencatan senjata sementara dengan negara-negara Arab untuk bersama-sama membendung serangan Saddam Husain. Namun ketika beliau mulai yakin bahwa negara-negara Arab tidak lain hanya alat yang dimainkan oleh Amerika, yang hanya melaksanakan arahan-arahan Amerika, beliau menurunkan perintah agar para ikhwah keluar dari Kuwait dan kembali ke Afghanistan, sementara para ikhwah yang memang belum sampai Kuwait diperintahkan untuk membatalkan kepergian mereka ke Kuwait, karena beliau mulai mencium gelagat pengkhianatan dari negara-negara Arab terhadap dirinya dan para ikhwah.
Kisah # 45
Beliau sangat dermawan sekali. Beliau selalu berpesan kepada para komandan agar memuliakan para ikhwah mujahidin dalam makanan dan hal-hal yang mereka perlukan, dan agar jangan sekali-kali menolak apapun yang mereka minta. Satu saat beliau pernah mengatakan kepada para komandan mujahidin dengan nada bercanda: “Kalaupun mereka meminta Jisburger, berikan apa yang mereka minta.”
Kisah # 46
Para ikhwah yang berhijrah ke Afghanistan dengan keluarganya beliau berikan uang bulanan dan rumah khusus.
Kisah # 47
Ada seorang ikhwah yang datang dengan tidak membawa senjata ke pegunungan Tora Bora, pada saat yang sangat genting bersamaan dimulainya serangan bangsa Salibis ke Afghanistan. Maka Syaikh Usamah pun mengambil senjata anaknya dan diberikan kepada ikhwah tadi. Hal itu karena beliau sangat dermawan dan itsar (mementingkan orang lain). Demikianlah penilaian kami terhadap beliau.
Kisah # 48
Beliau sering kali berdiam diri dan berfikir. Sampai-sampai pernah beliau ditanya ketika beliau berada di pegunungan Afghanistan pada waktu perang melawan Rusia dulu, apa yang membuat beliau sering berfikir. Beliau menjawab: “Saya berfikir untuk memerangi Amerika.”
Kisah # 49
Strategi beliau sebagaimana yang selalu diajarkannya kepada para pengikutnya adalah: Kita harus potong kepala ular – yaitu Amerika – sampai semua kekuatannya tumbang, mengikuti kepalanya.
Kisah # 50
Ketika para ikhwah datang berbondong-bondong, pada tahun 90-an, para ikhwah meminta kepada beliau untuk berperang melawan para thaghut di negara-negara Arab, jawaban beliau kepada mereka adalah: “Kita harus potong kepala ular, dan menunda konfrontasi dengan para thaghut. Karena para thaghut itu akan ikut tumbang dengan tumbangnya kepalanya. Mereka itu terlalu lemah untuk bisa tetap eksis setelah Amerika tumbang.”
Kisah # 51
Beliau selalu konsisten dengan prosedur keamanan yang sangat ketat dalam semua amaliyat (operasi). Namun beliau tetap berusaha memompa semangat para ikhwah dengan menyebutkannya secara isyarat. Contohnya, beliau pernah mengatakan kepada para ikhwah di Afghanistan ketika para ikhwah mereka yang lain telah berangkat untuk melakukan penyerangan ke Amerika, beliau mengatakan: “Doakanlah ikhwan-ikhwan kalian karena mereka telah sampai ke target sasaran.” Beliau juga mengatakan: “Ikhwan-ikhwan kalian dapat melihat target sasaran mereka dari balik jendela.” Hal itu karena gedung yang akan dihancurkan mujahidin sangat menjulang tinggi yang dapat mereka lihat dari balik jendela tempat tinggal mereka. Sementara ikhwah yang lain tidak mengerti apa sebenarnya target yang akan menjadi sasaran serangan.
Kisah # 52
Di antara kata-kata yang beliau ucapkan setelah serangan yang penuh berkah di Amerika tersebut, adalah: “Hari ini kita yang menyerang mereka, bukan mereka yang menyerang kita.”
Kisah # 53

Beliau pernah mengatakan kepada para komandan beliau yang sedang berbaris di hadapan beliau, untuk memompa semangat mereka seperti yang biasa beliau lakukan: “Jika antum bersabar bersamaku, niscaya akan aku telan yang basah dan yang kering (baca: semua yang ada, pen.) insya Allah.”
Kisah # 54
Beliau juga pernah menjanjikan kepada mereka, jika Allah memberikan kejayaan kepada beliau maka beliau akan memberikan para ikhwah jabatan masing-masing. Si A, antum akan saya berikan jabatan di wilayah A. Si B, antum akan saya beri jabatan di wilayah B, antum atur semua urusan di sana. Dan seterusnya.
Kisah # 55
Beliau juga pernah mengatakan kepada para ikhwah: “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, saya benar-benar melihat kemenangan sebagaimana saya melihat antum sekarang di hadapanku.”
Kata-kata beliau ini sangat berkesan dalam jiwa para ikhwah dalam memompa semangat mereka. Satu kali beliau berkata kepada para ikhwah: “Siapa Usamah bin Ladin itu, dan apa yang bisa dia perbuat, jika bukan karena Allah kemudian antum sekalian serta dukungan dan jihad antum.” Kata-kata beliau ini bisa membalik 180 derajat semangat para ikhwah (saat mereka loyo, pen). Beliau memang benar-benar komandan besar.
Inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya!
Kisah # 56

Di antara yang diucapkan beliau kepada para ikhwah adalah: “Antum jangan sedih jika Amerika membombardir kita. Kita akan beli Zukiak — senjata anti pesawat —, di pasar yang harganya hanya 500 dolar. Sementara coba antum pikirkan dan hitung berapa harga bom yang mereka tembakkan, biaya mengangkutnya dari ujung dunia sana, mengaktifkannya kemudian menggunakannya, pesawat dan para pilotnya, pelatihan penggunaannya dan seterusnya, bandingkan dengan biaya yang kita perlukan untuk menembakkan Zukiak. Berapa besar biaya yang menguras anggaran mereka dan berapa biaya yang kita keluarkan?”
Kisah # 57
Sesaat sebelum serangan Salibis dan setelah serangan 11 September, Syaikh Usamah membangun banyak sekali bangunan, dalam waktu yang sangat singkat dan berada di dekat muaskar (kamp pelatihan militer mujahidin) Al-Faruq, dari uang pribadi beliau. Maka dalam waktu sekejap beliau telah menyelesaikan pembangunan banyak sekali rumah tanpa ada pintu dan jendelanya. Tapi dari pesawat nampak seperti rumah sungguhan. Beliau menatangkan banyak sekali pekerja untuk menyelesaikan proyek tersebut dalam waktu singkat, di mana pada waktu tersebut beliau mengumumkan seruan jihad. Kemudian beliau mengarahkan dua orang ikhwah untuk duduk di atas gunung yang berhadapan dengan muaskar tersebut, yakni gunung Quba, untuk memantau serangan Amerika sampai selesai.
Dua ikhwah tadi menceritakan: “Amerika mengirimkan satu rudal untuk satu rumah, sementara tidak ada satu rumah pun yang dibangun Syaikh Usamah kecuali dijatuhi bom atau rudal. Dengan begitu beliau telah berhasil menguras anggaran mereka dengan taktik yang sangat unik dan mengagumkan.”
Kisah # 58
Syaikh Usamah memberikan arahan kepada para ikhwah untuk menyiapkan lampu-lampu dan menyalakannya di atas pegunungan dalam waktu yang berselang-seling dan di tempat yang terpisah-pisah. Beliau memerintahkan agar lampu-lampu tersebut dinyalakan sesaat sebelum matahari terbenam supaya tidak ada yang melihat ketika menghidupkannya karena masih ada sinar matahari.

Kemudian para ikhwah harus sudah menjauh dari posisi lampu-lampu tersebut sebelum gelap. Sehingga setelah gelap lampu-lampu itu nampak bersinar seolah-olah di sekelilingnya ada sekelompok mujahidin padahal para ikhwah telah jauh meninggalkan tempat-tempat tersebut. Maka Amerika pun menghujani tempat-tempat tersebut dengan bom-bom cerdas (smart bomb) yang dungu seperti mereka juga. Dengan begitu mereka telah menghabiskan biaya ribuan dolar sementara para ikhwah hanya kehilangan sebuah lampu saja.
Kisah #59
Beliau benar-benar telah membuat persiapan yang sangat besar untuk menghadapi Amerika ketika di Tora Bora. Beliau telah memprediksikan sebelumnya bahwa nantinya pasti ada penurunan pasukan udara mereka dalam jumlah yang sangat besar, hal itu karena mereka telah mengetahui bahwa Syaikh Usamah dan sejumlah pimpinan mujahidin ada di sana. — Ini bisa jadi memang Syaikh Usamah sendiri yang sengaja membuat mereka mengetahui posisi beliau untuk memuluskan sebuah rencana yang telah beliau persiapkan sebelumnya —.
Beliau membagi para ikhwah menjadi beberapa kelompok di beberapa titik. Masing-masing kelompok beliau pilih seorang amir, juga di masing-masing kelompok beliau tempatkan seorang dokter dan lain-lain yang tidak akan kami ceritakan lebih detil lagi. Kemudian kelompok-kelompok tersebut beliau sebar di pegunungan Tora Bora, sambil menunggu penurunan pasukan udara Amerika. Para ikhwah terus menunggu, akan tetapi … tikus-tikus Amerika itu terlalu pengecut untuk melakukan konfrontasi.
Tak tik beliau ini kalau berjalan sesuai dengan rencana tentu akan menjadi ladang pembantaian terhadap pasukan Amerika, dan tidak akan ada seorang tentara Amerika pun yang akan disisakan hidup. Akan tetapi ini adalah takdir Allah SWT dan apa yang Allah SWT kehendaki pasti Ia laksanakan.
Dan masih banyak lagi taktik- taktik beliau yang lainnya.
Menjulang bak gunung di tengah-tengah kita …
Tidak sudi menundukkan kepala kepada kekafiran …
Memberi pelajaran kepada para tiran …
Sambil menghunuskan pedangnya …
Hari ini engkau menjadi simbol …
Demi Allah, alangkah cemerlangnya engkau wahai Usamah …
Inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya!
Kisah # 60
Rumah beliau di Kandahar sangatlah sederhana, terbuat dari tanah. Demi Allah, alangkah cemerlangnya, engkau seorang komandan yang rendah hati.
Kisah # 61
Rumah beliau tidak ada bedanya dengan rumah-rumah ikhwah yang sudah berkeluarga.
Kisah # 62

Pernah ada seorang ikhwah masuk rumah beliau, setelah penyerangan 11 September dan beberapa hari sebelum bangsa Salibis melakukan serangan besar-besaran (ke Afghan). Ikhwah ini mau memindahkan barang-barang Syaikh Usamah untuk kemudian menyingkir. Ikhwah kita ini mendapatkan ada sebuah ruangan kecil di rumah Syaikh Usamah dan di dalamnya tidak ada apa-apa selain sehelai sajadah. Ikhwah ini pun mengira bahwa ruangan ini sebelumnya adalah sebuah gudang dan telah dikosongkan sebelum ia datang. Maka anak Syaikh Usamah pun mengatakan kepada ikhwah tersebut: “Ruangan ini bukan gudang, tapi ini adalah tempat yang digunakan ayahku, Usamah untuk berkhalwat (menyendiri dalam beribadah kepada Allah SWT).”
Inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya!
Kisah # 63
Rumah beliau terletak di sebuah desa yang biasa disebut dengan Desa Syaikh Usamah. Di desa ini terdapat sebuah lapangan voli. Terkadang Syaikh Usamah bermain voli bersama penduduk desa tersebut.
Ya, penduduk desa tersebut bermain bola voli tapi … menggunakan bola kaki yang berat itu. Apakah antum merindukan untuk duduk bersama dengan Syaikh antum? Semoga Allah melindungi beliau.
Kisah # 64
Beliau senang sekali jalan kaki. Beliau juga sering berpesan agar kita melakukan perjalanan jauh. Hampir menjadi suatu kewajiban bagi beliau untuk melakukan jalan kaki dua kali seminggu sejak ba’da Subuh sampai ba’da shalat Isya’. Dua kali. Minimal sekali seminggu.

Dan kini nasehat beliau ini mulai kelihatan manfaatnya.
Kisah # 65
Beliau selalu berpesan kepada para ikhwah untuk selalu waspada. Beliau juga selalu mengingatkan agar jangan gampang-gampang meninggalkan senjata dan rompi megazin (peluru).
Meskipun melihat orang lain gampang-gampang meninggalkan senjata dan rompi megazin,  maka tetaplah jangan gampang-gampang memperlakukan senjatanya.
Kisah # 66
Teguh pendirian, berjiwa kuat, dan hati-hati dalam mengambil keputusan.
Kisah # 67
Senantiasa tersenyum, tidak marah kepada sahabat-sahabat beliau, dan beliau selalu mencarikan udzur jika mereka berbuat salah.
Kisah # 68
Setelah musuh mulai berkumpul pada awal serangan Salibis, yang paling banyak beliau pesankan kepada para ikhwah adalah agar selalu memperbanyak dzikir, dan memperbanyak mengucapkan: “Hasbunallah wa ni’mal wakil.”
Kisah # 69
Beliau senang mendengarkan syair-syair dari para ikhwah, apalagi jika yang melantunkannya adalah pengarangnya sendiri. Beliau juga senang mendengar berbagai nasyid, dan bahkan beliau memberikan penilaian kelebihan satu nasyid dengan nasyid lainnya. Dan ketika beliau mendengarkan nasyid Syaima’ Tabki (Syaima’ Menangis, mengisahkan remaja putri Palestina yang melahirkan anak hasil diperkosa oleh tentara zionis Yahudi, pen) beliau duduk sambil menangis. Beliau terus duduk mendengarkannya sambil menangis sampai nasyid itu selesai.
Kisah # 70
Ketika beliau mendengar nasyid Bada-al Masiru Ilal Hadaf (Telah Dimulai Perjalanan Menuju Tujuan), beliau tersenyum sambil mengatakan: “Telah dimulai perjalanan menuju tujuan.”
Kisah # 71
Sebagian ikhwah ada yang bercerita bahwa Syaikh Usamah mengunjungi mereka — sebagaimana kebiasaan beliau — , tapi ketika hari-hari terakhir beliau semakin sering mengunjungi mereka sampai 7 atau 8 kali secara berturut-turut. Lalu ada seorang ikhwah mengatakan kepada ikhwah yang lain di antara mereka — dengan bergurau —: “Kayaknya kaki Syaikh Usamah telah ringan.”
Setelah itu terhentilah kunjungan beliau kepada mereka sehingga mereka bersedih dan merasa rindu kepada beliau. Sampai mereka hitung satu bulan penuh, beliau tidak mengunjungi mereka. Maka para ikhwah pun memarahi ikhwah yang mengucapkan kata-kata tadi dan menuduhnya telah mengenai Syaikh Usamah dengan ‘ain nya. Lalu mereka pun berjanji untuk tidak lagi mengatakan kata-kata semacam itu meskipun bergurau.
Saya ceritakan kisah ini supaya para pembaca yang mulia memperhatikan gurauan semacam ini.
Kisah # 72
Terakhir … saya ada sedikit catatan tentang kemunculan terakhir Sang Singa Islam dalam video yang berjudul Al- Hall, saya katakan: Ketika Amerika hendak menyerang negeri-negeri kaum muslimin, Amerika datang dengan membawa agama dan peradabannya. Mereka mempromosikan bahwa agama dan peradaban mereka itu yang paling baik buat kita. Mereka mengaku menyebarkan demokrasi dan kebebasan, program ‘sepele’ untuk Timur Tengah, kebebasan wanita, kesepahaman perdagangan, dan propaganda keunggulan kehidupan Barat. Kemudian usaha mereka sampai puncaknya dengan melakukan penyerangan kepada kaum muslimin. Namun usahanya ini gagal total. Yang saya baca dari ceramah Syaikh Usamah terakhir ini, di mana beliau menyampaikan ‘solusi’ buat bangsa Amerika, ini hanyalah sebuah permulaan dari sesuatu yang akan segera terjadi yang merupakan kebalikan dari apa yang dilakukan Amerika ketika hendak menjajah negeri-negeri kita. Saya serahkan kepada para pembaca yang mulia untuk menebak sendiri apa sesuatu tersebut.

Pembahasan tentang sifat-sifat Syaikh Usamah bin Ladin ini sangatlah panjang. Jika kita ingin duduk membahas sifat-sifat dan kata-kata yang pernah beliau ucapkan, kita pasti akan menghabiskan banyak sekali halaman dan buku, namun demikian kita tidak akan mungkin dapat menggambarkan semuanya secara sempurna.
Di sini saya ingin mengisahkan hal-hal yang bermanfaat buat semua kalangan dalam semua ragamnya, dan saya tidak mengingat satu kalangan masyarakat tertentu kecuali pasti saya sampaikan kisahnya minimal satu.
Saya berharap tidak ada seorang pun yang selesai membaca kisah ini kecuali ia mengambil pelajaran darinya, kemudian menyampaikan dan menjelaskan kepada orang lain pelajaran apa yang ia dapatkan itu. Dalam kisah ini banyak hal yang saya sampaikan secara sekilas selain juga banyak hal yang tidak saya ceritakan. Dan jika saya tahu bahwa ada sebagian orang yang menganggap bahwa apa yang saya tulis ini hanya cerita hiburan yang tidak ada manfaatnya, maka saya tidak akan menulisnya.
Saya ingatkan diri saya sendiri dan juga para pembaca yang mulia bahwa kita ini adalah ummatan wasathan, maka tidak selayaknya kita mengurangi kewajiban kita terhadap Syaikh Usamah bin Ladin. Saya bukan mau bersikap berlebihan kepada beliau, tapi saya katakan:
Inilah Syaikh saya, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya!
Bahkan lebih dari itu, inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan kepada kami siapa Syaikhnya!


Ditulis oleh: Asadul Jihad 2
Ujung Tombak Mujahidin
Semoga Allah merahmati semua orang yang membaca artikel ini lalu ketika ia lihat ada kebaikan padanya, ia sampaikan dan sebarkan kepada orang lain..


Tag :

The Untold Story: Kisah-kisah nyata syaikh Usamah bin Ladin yang belum pernah dipublikasikan (3)

Dalam artikel kali ini, Asadul Jihad ats-Tsani kembali menuturkan beberapa pengalaman pribadinya dan orang-orang dekat syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah selama menemani syaikh Usamah. Banyak hal diceritakannya. Dari pengalaman di medan perang Afghanistan, keakraban dengan semua orang yang bergaul dengan beliau, hingga penghormatannya kepada seorang ibu mujahid dari Makah dan tangis bahagia seorang nenek tua di Sudan.
***
Kisah # 23
Seringkali para ikhwah mengundang beliau untuk menyampaikan khutbah atau nasehat buat mereka. Namun Syaikh Usamah termasuk orang yang tidak menyukai hal itu. Bahkan seringkali beliau menghindari berkhutbah di kalangan ikhwah kecuali jika ada suatu keperluan yang mendesak.
Kisah # 24
Suatu kali ada seorang ikhwah datang ke masjid untuk shalat jum’at. Lalu di sana dia melihat ada Syaikh Usamah sedang duduk dengan memeluk lututnya sambil menunggu shalat sebelum khatib masuk. Maka ikhwah kita ini mengatakan dalam hatinya: “Hari ini saya tidak ada kerjaan sampai datang waktu khutbah, selain melihat dan memperhatikan Syaikh Usamah,” — lantaran sangat cintanya mereka kepada beliau —.
Ketika itu Syaikh Usamah kelihatan memegang sebuah mushaf kecil yang beliau keluarkan dari saku beliau. Beliau pun membacanya. Tiba-tiba, di tengah-tengah beliau membaca Al Qur’an itu, beliau menengadahkan pandangannya ke langit sambil merenung dengan tenang. Beliau terus dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang sangat lama sekali kira-kira satu jam. Ikhwah kita tersebut pun terus memperhatikan beliau dari jauh. Kemudian para jamaah mulai berdatangan ke masjid sampai masjid hampir penuh, sedangkan Syaikh Usamah masih saja menengadahkan pandangannya ke langit.

Kita tidak tahu apa yang sedang beliau renungkan dan ayat yang mana yang sedang beliau tadabburi sampai beliau lama sekali memikirkannya. Beliau terus dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang tidak sebentar. Sampai akhirnya khatib naik mimbar dan mengucapkan salam kepada para jamaah. Syaikh Usamah pun menyahut, lalu kembali tenggelam dalam tadabburnya tadi. Akhirnya beliau menutup mushafnya dan mendengarkan khutbah. Dan kita tidak tahu apa yang tengah beliau pikirkan dan ayat mana yang menjadikan beliau menerawang sampai begitu lama.
Kisah # 25
Syaikh Usamah selalu menasehatkan agar tidak merasakan kenapa kemenangan datang begitu lambat, agar pelan dan hati-hati, dan agar senantiasa sabar. Di antara perkataan beliau yang selalu beliau ulang-ulang adalah: “Sesungguhnya kemenangan itu dapat diraih dengan kesabaran sesaat, sedangkan kita ingin selain sabar sesaat, kita bersabar dua kali lipatnya lagi.”
Kisah # 26
Di antara ucapan beliau lainnya yang sering beliau ucapkan, sampai ketika bom-bom dan rudal-rudal membombardir bumi di sekitar mujahidin, adalah: “Supaya datang kelapangan … harus ada kesempitan.”
Kisah # 27
Ucapan beliau lainnya lagi adalah: “Setiap hari yang dilalui seorang mujahid dalam perang gerilya ini sedangkan dia terus berperang, maka itu terhitung satu kemenangan, karena ini adalah proses menguras tenaga musuh.”

Kisah # 28
Ucapan agung lain yang beliau ucapkan dalam memberikan motivasi untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah adalah: “Lebah itu kalau menyengat 9 kali di kepala maka akan dapat menewaskan orang yang disengatnya. Hendaknya para mujahidin merenungkan hal ini.”
Kisah # 29
Beliau memilih lebih dekat dengan para ikhwah yang telah menikah dari pada ikhwah yang belum menikah. Sampai-sampai terkadang ada ikhwah yang mengatakan kepada beliau bahwa si fulan (yang belum menikah) itu lebih pantas daripada si fulan (yang telah menikah). Maka beliau mengatakan bahwa orang yang telah menikah itu pikirannya lebih cemerlang dan orangnya lebih tahan dalam berhijrah.
Kalau ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah saya lebih baik menikah, atau justru kalau saya menikah akan menghalangiku berjihad atau menghalangiku dari sebagian pekerjaan jihad?”
Maka beliau menjawab: “Kalaupun di antara antum itu ada yang berada di mulut singa maka jangan sampai hal itu menghalanginya untuk menikah!!!”
Engkau benar wahai Syaikh kami, dan saya telah merasakannya. Maka hendaknya para ikhwah yang masih bujang memikirkan hal ini…
Kisah # 30
Di antara ucapan beliau yang lain adalah: “Jika aku terbunuh atau meninggal, maka janganlah kecintaan kalian kepadaku menjadikannya meninggalkan jalan perjuangan ini. Tapi dengar dan taatlah kepada siapa saja yang menjadi pimpinan kalian!” Semoga Allah melindungi beliau dan memberikan berkah pada umur beliau.
Inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya. 
Kisah # 31
Alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin. Pernah Syaikh Usamah memberikan nasehat kepada Taliban agar dalam berperang melawan orang-orang murtad (pengkhianat) — ini terjadi sebelum penyerangan bangsa Salibis ke Afghanistan, Oktober 2001— hendaknya menempatkan satu penjagaan di atas gunung Shabir. Padahal jarak antara gunung tersebut dengan musuh sekitar 15 km, akan tetapi gunung ini langsung bersambung dengan jalan satu-satunya yang mengarah ke sana.
Namun Taliban tidak mengambil masukan dari Syaikh Usamah tersebut. Maka Syaikh Usamah pun menempatkan satu penjagaan sendiri di sana. Maka pada saat musuh hampir saja menguasai kota Kabul setelah mereka nyaris menguasai gunung, Syaikh Usamah pun menembaki musuh dengan senjata anti pesawat, untuk mengirimkan pesan kepada Taliban bahwa kami masih tetap bersama kalian melindungi kalian dari arah belakang, maka tetaplah kalian bertahan.
Kemudian Syaikh Usamah memerintahkan agar bergerak ke arah sebuah tank peninggalan Rusia yang telah rusak yang telah disamarkan dalam khandaq. Padahal para ikhwah tidak membawa roket anti tank kecuali satu saja. Roket itu pun mereka pasang dan mereka tetap berjaga di sana sampai roket tersebut ditembakkan tepat di tengah-tengah musuh. Musuh pun akhirnya mundur ke belakang dan atas karunia Allah semata beliau berhasil menghentikan serangan musuh yang hampir saja merebut kota Kabul!!
Alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin.
Kisah # 32
Apabila beliau pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan, beliau meletakkan ujung surban beliau di muka karena saking pemalunya beliau.
Kisah # 33
Syaikh Usamah sewaktu di Sudan
Pada saat di tinggal Sudan, ada seorang nenek yang memegangi baju beliau dan meminta uang. Padahal Syaikh Usamah itu sangat pemalu dengan orang yang tidak beliau kenal. Pada saat itu Syaikh Usamah tidak membawa uang. Maka beliau melihat kepada ikhwah yang membawa uang beliau, beliau panggil ikhwah tersebut dan beliau mengambil uang yang banyak sekali kemudian beliau berikan kepada nenek tersebut, karena sangat belas kasih beliau kepada nenek tersebut. Nenek itu pun memandangi uang sangat banyak yang ada di tangannya yang diberikan kepadanya itu, seolah tidak percaya.
Maka terjadilah situasi yang besar. Nenek itu berlutut sambil menangis. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan mendoakan Syaikh Usamah dengan sangat serius sambil menangis.
Kami tidak tahu apa yang terjadi lantaran berkah doa nenek tersebut kepada Syaikh Usamah.
Inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya!
Kisah # 34
Ada seorang ibu, penduduk Makah semoga Allah memuliakannya, umurnya sudah enam puluh tahun lebih. Kunyah (nama panggilan)nya Ummu Umar Al-Makkiyah, semoga Allah melindunginya. Anaknya termasuk orang yang ikut berjihad di Afghanistan sebelum serangan bangsa Salibis sekarang ini. Ibu ini biasa mengirim secara rutin ke Afghanistan beberapa karton makanan olahan dari korma yang ia buat sendiri dengan tangannya. Ibu ini sudah terkenal dengan kirimannya tersebut. Para ikhwah selalu menunggu dan merindukan makanan olahan tersebut dan mereka menyebutnya dengan nama ma’mul Ummi Umar Al-Makkiyah.
Suatu kali ibu ini datang ke Afghanistan untuk menengok anaknya. Sesampainya di sana ibu ini bersumpah untuk pergi ke front untuk berjihad dan menembak fi sabilillah. Maka Syaikh Usamah pun menyambutnya dengan mulia, kemudian membawanya dari Peshawar ke front Jalalabad. Ibu itu pun dipersilahkan menembakkan Aldchka, Syaikh Usamah mempersilahkan ibu itu untuk menunaikan sumpahnya.
Kisah # 35
Syaikh Usamah dikenal sebagai orang yang sangat santun sekali. Berikut ini kami ceritakan sebagian dari kisahnya.
Ada seorang ikhwah yang duduk berhadap-hadappan dengan Syaikh Usamah, lututnya di dekatkan dengan lutut Syaikh, sambil memprotes Syaikh Usamah dengan sangat keras sekali. Ikhwah yang satu ini memang sudah terkenal jika sedang marah ia tidak lagi dapat konsentrasi dan tidak dapat mengendalikan diri. Ikhwah ini menudingkan telunjuknya ke wajah Syaikh dan berbicara dengan suara yang sangat tinggi. Ia katakan, kenapa begini dan kenapa begitu.
Syaikh Usamah hanya diam dan tidak membantahnya. Maka ikhwah kita yang satu ini mengatakan kepada Syaikh Usamah: Saya minta darimu ini, ini, dan itu. Syaikh Usamah menjawab: “Semua permintaanmu akan terkabul, insya Allah…”
Kemudian ikhwah kita ini keluar sambil mangangguk-anggukkan kepalanya, ia sangat menyesali apa yang ia lakukan, setelah ia sadar. Ikhwah tersebut duduk sambil melihat jarinya dan mengatakan kepada dirinya sendiri: “Bagaimana saya bisa mengangkat suaraku dan jariku ke wajah Syaikh Usamah … Dan bagaimana Syaikh tidak menghardikku sama sekali, bahkan justru mengabulkan permintaanku …?”
Kisah # 36
Pernah seorang pengaku salafi dalam suatu majelis di hadapan banyak orang dan di hadapan Syaikh Usamah dan para pengawal beliau, dia mengatakan kepada Syaikh Usamah — dengan gaya yang sangat tidak beradab dan tanpa hormat sedikitpun —: “Kamu salah dalam ini dan itu!!!” Para pengawal Syaikh Usamah pun menunggu-nunggu isyarat dari Syaikh Usamah untuk bertindak sesuatu. Akan tetapi Syaikh Usamah tidak memotong perkataan orang tersebut meski dengan satu kata, sampai orang itu menyelesaikan tuduhan-tuduhannya.
Kemudian Syaikh Usamah mengatakan kepada salah seorang pengawalnya: “Periksalah kondisinya, jika dia orang yang kekurangan maka bantulah dia dalam masalah duniawinya.”
Inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya!
Kisah # 37
Syaikh Usamah juga pernah mengatakan: “Sungguh Allah telah mengaruniaiku dengan sifat penyantun yang tinggi. Namun jika Allah mentakdirkan aku berkumpul dengan kalian di front pertempuran, niscaya kalian akan melihat sesuatu yang lain dariku.”
Ini memang benar adanya dan semua orang yang pernah berperang bersama beliau mengetahuinya, semoga Allah melindungi beliau.
Apa yang beliau katakan ini mirip sekali dengan apa yang dikatakan oleh Al-Ahnaf bin Qais (seorang ulama tabi’in dan panglima perang yang gagah berani di zaman sahabat, walau kakinya agak pincang, edt).
Kisah # 38
Siapa saja yang ingin mendaftarkan diri untuk melakukan amaliyat istisyhadiyah, cukup dengan cara meminta satu pertemuan khusus dengan Syaikh Usamah, berbicara berdua dan tidak ada orang lain.
Kisah # 39
Siapa saja yang ingin berbaiat kepada beliau, cukup dengan cara meminta pertemuan khusus dengan Syaikh Usamah yang tidak disertai orang lain.
Syaikh Usamah dalam sebuah acara pernikahan salah satu putranya
Kisah # 40
Siapa saja yang ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan pribadi, maka cukup dengan cara meminta satu pertemuan khusus dengan beliau tanpa ada orang lain.
Sampai-sampai para pengawal beliau pun berada jauh dari pertemuan tersebut setelah mereka melakukan prosedur pengamanan.
Kisah # 41
Semua orang bisa melakukan pertemuan khusus dan pribadi dengan Syaikh, baik orang tua maupun anak muda, sama saja.
Kisah # 42
Syaikh Usamah terkenal sebagai orang yang mau duduk dengan orang tua maupun anak muda. Beliau menghormati mujahidin yang menuntut ilmu, menghormati orang tua, dan selalu berprasangka baik kepada kaum muslimin.
Kisah # 43
Beliau tidak berkenan jika di dalam majelisnya ada ikhwah yang membicarakan jamaah-jamaah Islam dengan tidak baik, atau menghinanya. Beliau juga tidak memperkenankan di majelisnya diperbincangkan masalah perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara jamaah-jamaah Islam atau menebar isu. Beliau selalu mengatakan: “Di hadapan kita ada hal yang lebih penting dan lebih besar, dan kita ini sedang dalam pertempuran dan peperangan.”
Jika hal itu terjadi dan kemudian ada suatu kezaliman atau hal yang perlu diingatkan pada satu jamaah tertentu, dan ada orang yang menyampaikan kepada beliau dengan mengatakan: “Mereka ada begini dan begitu, mereka melakukan ini dan itu”, maka Syaikh Usamah segera memotong pembicaraannya dengan mengatakan: “Kecuali orang yang dirahmati Allah.” 
Inilah Syaikh kami, maka silahkan orang lain menunjukkan siapa Syaikhnya!
 Mereka yang menyintai dan menyayangi syaikh Usamah bin laden (rahimahullah)
Bersambung,  insya Allah.


SUMBER
Tag :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
© Merunduk | All Rights Reserved
D.I.Y Themes ByBelajar SEO